1“Dia terlalu cepat!” kata Lyra sambil terus menembak, tapi targetnya sulit dijangkau.
Sementara itu, Seraphina berada di tengah pertarungan sengit dengan pimpinan regu Monrest yang tubuhnya tampak seperti batu dengan aksesoris tanduk masih melekat di kepalanya yang bermutasi. Ia memiliki kekuatan luar biasa, menghancurkan pohon-pohon di sekitarnya dengan tinjunya.
“Kau hanya seorang wanita kecil. Beraninya kau melawan aku!” ejek pria itu sambil menyerang dengan pukulan keras.
Seraphina menghindar dengan lincah, balas menembak dengan senjata lasernya. Namun, tembakannya selalu berhasil dihindari dengan mudah oleh pimpinan bertanduk itu. Kulitnya yang keras seperti batu dapat menangkis tembakannya.
"Dia sangat kuat dan cepat." Batin Seraphina. Dia mencoba beberapa kali tembakan dan masih tetap gagal.
“Kalian pikir senjata kalian bisa menghentikan kami?” ejek pimpinan bertanduk itu sambil menyerang lagi. Kali ini, pukulannya menghantam tanah, menciptakan gelombang kejut yang melemparkan Seraphina ke udara.
Seraphina mendarat dengan keras, darah mengalir dari kepalanya. "Aku tidak akan kalah. Aku tidak akan mati dengan sia-sia. Akan kubawa kamu bersamaku."
Dengan tenaga terakhirnya, ia mengaktifkan settingan peledak di senjatanya dan melemparkannya langsung ke dada musuh yang mendekat.
“Ini untuk timku,” gumamnya sebelum ledakan besar menggema di hutan.
Pria bertanduk itu roboh, tubuhnya hancur berkeping-keping. Namun, ledakan itu juga melukai Seraphina parah. Ia jatuh ke tanah, tidak bergerak.
“Seraphina!” teriak Kael yang melihat rekannya tewas.
Di tengah medan perang, Kane menghadapi Ruvan langsung. Tubuh Ruvan yang telah bermutasi tampak mengerikan, dengan otot-otot yang mengembang dan kulit yang bercahaya hijau. Setiap langkahnya menghancurkan tanah di bawahnya.
“Kau pikir bisa mengalahkan aku?” ejek Ruvan. “Aku akan menangkap dan menyiksa kalian.”
“Kita lihat siapa yang bertahan lebih lama,” balas Kane dengan nada dingin.
Ruvan menyerang lagi, meluncurkan pukulan dengan kekuatan yang cukup untuk merobohkan pohon. Meski gerakan Ruvan cepat, dengan naluri dan pengalaman bertempurnya, Kane dapat menghindar dengan gerakan lincah, lalu menikam sisi tubuh Ruvan. Namun, kulit mutasi Ruvan terlalu keras, pisau itu hanya meninggalkan goresan kecil.
“Harus lebih dari itu untuk melukai aku!” seru Ruvan, menyerang lagi dengan tendangan memutar yang hampir mengenai Kane.
Kane terus bergerak, menghindari serangan dari Ruvan yang tiada henti, membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk menembak.
Ketika Ruvan menyerang lagi, Kane memanfaatkan momentum untuk melompat ke atas punggungnya. Dia berusaha menusukkan pisau ke bagian belakang lehernya, namun Ruvan bergerak cepat memutar tubuhnya sehingga Kane terlempar.
Di tengah hutan yang penuh dengan suara ledakan dan teriakan, pertarungan antara pasukan Kane dan pasukan Monrest yang bermutasi terus berlangsung. Dua pimpinan regu Monrest yang masih hidup melancarkan serangan brutal kepada pasukan Kane, sementara Kane sendiri terlibat dalam duel sengit dengan Ruvan.
Salah satu pimpinan regu, yang tubuhnya bermutasi menjadi bersisik, bergerak cepat di antara pepohonan. Sisiknya yang keras mampu memantulkan sebagian besar tembakan laser prajurit Kane, membuatnya hampir mustahil untuk dilumpuhkan. Bom fragment yang di lemparkan menjadi sia-sia karena tidak tepat sasaran.
“Aku akan menghancurkan kalian semua!” teriaknya dengan suara menggelegar. Cambuk berujung duri yang ia gunakan melesat, menghantam salah satu prajurit Kane dan merobohkannya ke tanah.
“Kita tidak akan menang jika terus menembak sisiknya!” teriak Lyra kepada Darius. “Kita butuh rencana lain!”
Darius mengangguk cepat. “Fokus pada serangan gabungan! Targetkan bagian bawah sisiknya!”
Sementara itu, pimpinan regu lainnya, yang menggunakan senjata gada, memiliki tubuh kokoh seperti batu menyerupai pimpinan bertanduk, menyerang dari sisi lain. Serangannya mampu menghasilkan gelombang kejut pada setiap pukulannya. Dengan satu hantaman ke tanah, ia menciptakan ledakan kecil yang melemparkan beberapa prajurit Kane ke udara.
Kael mendapatkan ide. Sebagai wakil komandan, dia memberi perintah tegas dengan suara pelan kepada Valen yang berada di dekatnya. “Valen, pasang beberapa bom di tanah! Kita gabungkan dengan tembakan laser ketika mereka mendekat!”
Valen secara diam-diam segera menjauh dari pertempuran dan menanam bom kecil di jalur yang tidak terlihat oleh pimpinan regu Monrest.
Setelah Valen berhasil mengerjakan tugasnya, dia memberi kode kepada Kael, yang segera dilanjutkan oleh Kael memberikan kode dan aba-aba melalui alat komunikasi mereka.
Segera Freya, Lyra, Darius bergerak berlari mengikuti Kael, menuju arah yang di perintahkan oleh Kael.
Kedua pimpinan Monrest yang sudah bermutasi melihat mereka melarikan diri segera mengejar.
"Kalian tidak akan bisa melarikan diri dari sini." Kata salah satu pimpinan regu Monrest.
Setelah sampai di tempat yang di tentukan, Freya, Lyra, Darius dan Kael menanti kesempatan. Saat kedua pimpinan menyerang mereka bersamaan, segera mereka berempat melompat dan menjauh dari lokasi tersebut.
Valen yang sudah bersiaga, segera menembak, berusaha menahan kedua pimpinan agar Freya, Lyra, Darius dan Kael berada dalam jarak aman.
“Tembak sekarang!” Perintah Kael kepada pasukannya setelah di titik aman.
Tembakan laser serentak meluncur, mengenai bom yang telah dipasang. Ledakan besar mengguncang tanah, menghancurkan sebagian tubuh kedua pimpinan itu. Mereka  meraung kesakitan, mencoba melanjutkan serangan, tetapi tubuhnya mulai retak di banyak tempat.
Freya memanfaatkan momen ini. “Sekarang! Serang titik lemah di dadanya!”
Dengan tembakan laser yang terfokus, prajurit Kane akhirnya berhasil menghancurkan tubuh berbatu pimpinan regu itu. Ia roboh dengan suara keras, meninggalkan kawah kecil di tempatnya berdiri.
Di sisi lain, pimpinan dengan kulit bersisik ikut terluka parah terkena ledakan. Sisiknya yang keras, terlihat hancur setelah terkena ledakan.
“Matilah!” teriak Kael sebelum menembakkan laser langsung ke kepala pimpinan tersebut. Serangan itu menembus sisiknya yang telah retak, membunuhnya seketika.
Dengan kedua pimpinan regu Monrest tewas, sisa pasukan Monrest yang masih hidup mulai mundur, meninggalkan medan perang. Pasukan Kane yang tersisa menarik napas lega, meskipun tubuh mereka dipenuhi luka dan kelelahan.
Sementara itu, pertarungan antara Kane dan Ruvan semakin sengit. Tubuh Ruvan yang telah bermutasi tampak seperti monster mengerikan dengan otot-otot yang membesar dan tanduk melengkung di kepalanya. Setiap pukulan dan tendangannya cukup untuk menghancurkan pohon-pohon besar di sekitarnya.
Kane beberapa kali terlempar terkena serangan cepat dan kuat dari Ruvan. Berkat armor di tubuhnya, dapat mengurangi benturan serangan yang diterima tubuhnya.
“Ternyata kamu masih bisa bertahan dari seranganku.” Kata Ruvan sambil melancarkan serangan bertubi-tubi ke tubuh Kane.
Meski terluka, Kane tetap berusaha menghindar dengan lincah, mencari celah di pertahanan Ruvan. “Aku tidak akan menyerah begitu saja terhadap mahkluk menjijikkan seperti dirimu,” balasnya dengan nada dingin.
Ruvan menjadi marah dan melancarkan pukulan keras ke tanah. Kane melompat menghindar ke udara dan menembakkan laser langsung ke wajah Ruvan. Serangan itu mengenai salah satu tanduknya, menghancurkannya sebagian. Ruvan meraung marah, darah bercampur cairan hijau mengalir dari luka di kepalanya.
“Kau pikir itu cukup untuk menghentikanku?” Ruvan melompat ke arah Kane dengan kecepatan luar biasa, menjatuhkannya ke tanah. Ia mencoba menghantam Kane dengan kedua tangannya, tetapi Kane berhasil menggulingkan tubuhnya dan melepaskan bom fragment ke sisi Ruvan.
Ledakan itu berhasil di hindari Ruvan, namun efek dari ledakan melemparkan Ruvan beberapa meter ke belakang, tetapi ia segera bangkit kembali. “Aku akan menghabisi kalian semua, tidak ada seorangpun yang akan aku biarkan hidup.”
Kane berusaha berdiri dengan napas memburu. Tubuhnya merasakan kelelahan yang sangat luar biasa. Selama menjalani misi, ini adalah pertama kalinya dia menghadapi makhluk sekuat musuh didepannya. Kekuatan Ruvan jauh melebihi kekuatan mahluk mutasi yang ada di dunia mereka.
Ruvan mengerahkan kekuatannya agar dapat melesat maju dengan kecepatan luar biasa untuk mengayunkan pukulan ke arah Kane. Namun sebelum dia bergerak, berbagai tembakan laser mengenai tubuhnya. Dia melihat beberapa benda yang dikenalinya dapat meledak, terbang menuju ke arahnya.
Ruvan yang mengetahui kekuatan dari ledakan benda itu, tidak berani menahannya, sehingga dia melompat kebelakang, menghindar.
“Akhir dari perjalananmu, monster,” kata Kane sambil melemparkan beberapa bom fragment ke arah Ruvan yang melompat.

